Sabtu, 13 November 2010

Terhipnotis

Once upon a time… Udara pagi yang cerah membawa semangat untuk saya menjalani kuliah saat itu. Cukup menikmati suasana jalanan kota Bandung yang masih segar sambil mengendarai kuda besi (baca: sepeda motor). Sesampainya di kampus, seperti biasa saya menyapa teman-teman yang sudah hadir serta para dosen yang melintas di koridor kampus…
Jam di tangan pun menunjukkan pukul 07.40 WIB. Itu artinya sekitar lima menit lagi perkuliahan dimulai. Saya dan teman-teman pun bergegas untuk memasuki ruang kelas. Dan tepat pukul 07.45 WIB, dosen kami memasuki kelas sesuai jadwal. Hari ini saya sekelas akan mendapatkan mata kuliah Manajemen Perusahaan. Sambil mempersiapkan materi, Pak Ega (dosen kami) memanggil satu persatu mahasiswanya untuk diabsen. Setelah itu langsung masuk materi.
Saya cukup serius memperhatikan materi yang disampaikan Pak Ega. Sampai di tengah-tengah perkuliahan, handphone (HP) saya pun bergetar pertanda ada telepon masuk. Saat itu HP saya mode silent, jadi tidak menghebohkan suasana kelas. Ternyata ada nomor baru yang tidak saya kenal. Saya pun mengangkatnya sambil bergegas ke kolong bangku sambil berbisik-bisik menjawab si penelepon. Karena neleponnya lama, saya bergegas keluar ruangan sambil meminta ijin kepada dosen. Kaget sekaligus bingung, karena di ujung telepon sana ada suara seorang lelaki tua yang memberi tahu bahwa saya mendapat Undian berhadiah dari provider nomor HP yang saya pakai.
“Selamat Pagi, apakah benar dengan pemilik nomor 081xxx?” Sapanya.
“Iya, benar. Maaf ini dengan siapa dan dari mana?” Saya jawab.dan melontarkan pertanyaan standar jika ada nomor baru.
“Iya, Pak. Saya Bambang dari HUMAS (menyebutkan provider nomor HP).” Ujarnya. “Maaf dengan Bapak siapa dan bekerja dimana?” Lanjut Bambang.
“Saya Gust Kemal, saya seorang mahasiswa.” Ragu saya. “Oh, dengan Mas Gust Kemal ya? Selamat ya, Mas mendapatkan hadiah Sepuluh Juta Rupiah. Mas terpilih dari undian yang kami adakan tadi malam. Sekali lagi selamat ya Mas..” Ucapnya memberikan kabar yang menggembirakan.
Terang saja, waktu itu sesaat saya mendadak kegirangan. Mendengar akan mendapat uang SEPULUH JUTA Rupiah.
Saat itu, tepatnya pada tanggal 24 April 2009. Memang, pekan-pekannya pikiran saya sedang tak menentu. Terlalu banyak keinginan, yang akhirnya banyak mengkhayal tak karuan. Tanpa didukung oleh usaha yang maksimal.. akhirnya terjadilah peristiwa itu: TERHIPNOTIS.
Menurut para ahli (terutama yang suka menghipnotis), mengatakan bahwa orang yang terhipnotis adalah orang yang sedang fokus pada satu pikiran. Berbeda dengan orang yang kerasukan karena justru kosong pikiran, (catet!).
Ya, saat itu saya sedang memikirkan bagaimana cara mendapatkan uang untuk membelanjakan sebuah Komputer Jinjing (baca: Notebook/ Laptop). Sudah hampir satu pekan saya memikirkannya. Sampai pada akhirnya ada sebuah telepon yang mengatakan bahwa saya memenangkan undian. Yang anehnya, kenapa orang yang ada di ujung telepon itu mengulang perkataan ini sebnayak lebih dari lima kali, “Selamat Mas, Anda berhak mendapat uang tunai sebesar sepuluh juta.” Saking seksamanya menyimak kalimat itu, makanya saya mudah untuk terhipnotis.
Dari sanalah alam bawah sadar saya sudah dikuasai Bambang. Dari suaranya, dapat ditaksir dia berusia di atas 40 tahun, karena suaranya yang serak-serak basah. Setelah mendapat telepon itu, si Bambang ini menyuruh saya untuk mentransfer uang sejumlah dua ratus ribu untuk biaya pengirimannya. Tanpa sadar (memang tidak sadar), saya menuruti perintah-perintahnya. Saking parahnya saya terhipnotis, saya memberanikan diri untuk ijin pulang kepada dosen yang masih mengajarkan materi Manajemen Perusahaan. Sebelum diputus, Bambang dalam teleponnya meminta saya untuk tidak menceritakan hal ini kepada siapapun, makanya saya katakan ijin ada keperluan keluarga yang mendesak dan mendadak. Saya pun akhirnya pulang untuk meminjam uang dan mengambil ATM kepada mamah.
Di perjalanan pulang, saya menyunggingkan bibir sedikit yang pada saat itu terkena sariawan. Senyam-senyum sendiri seperti orang yang mendapat kabar diterima cintanya oleh sang kekasih. Sesampainya di rumah, saya langsung menghadap mamah untuk meminjam uang sesuai yang diperintahkan Bambang. Meskipun ada kecurigaan, awalnya mamah menolah untuk memberikan uang sebesar Rp 200.000,-. Namun, karena ada pemaksaan dari saya yang sok meyakinkan, akhirnya mamah pun memberi uang itu.
Sesampainya di Bank, saya pun bergegas mengantre di teller untuk setor. Lalu saya pun dihubungi lagi Bambang. Setelah uang masuk rekening, ia meminta saya untuk masuk ATM. Disana, saya disuruh untuk membeli pulsa ke nomornya. Saat itu saya bertanya-tanya kenapa nomor yang diisikan pulsanya bukan nomor saya, makanya saya memasukkannya saja ke nomor saya. Ternyata harus diisikan ke nomornya. Akhirnya dengan terpaksa, saya pun mengisikan lagi ke nomornya melalui fasilitas transfer antar operator telepon.
Tak berhenti sampai disitu, dia pun meminta saya untuk membeli voucher pulsa sebesar 250 ribu. Karena di tempat itu jarang ada counter pulsa, saya pun mencarinya dengan berjalan kaki yang cukup jauh. Sesampainya di counter pulsa, saya pun langsung memesan voucher yang diminta bambang. Ketika membeli voucher pun saya diminta untuk menjauh dari keramaian. Penjualnya pun merasa curiga. Setelah mengisikan pulsa, saya ditanya oleh sang penjual. Saya katakan bahwa saya akan mendapat hadiah dari undian sebuah provider telepon seluler. Dan saya balik nanya kepada penjual tersebut, “Apakah provider ponsel itu sedang mengadakan undian berhadiah?”
Dari sinilah saya mulai sadar kembali. Ia menjawab bahwa provider itu sedang tidak mengadakan undian berhadiah. “Oh, Anda tertipu.” Jelasnya.
Ketika mendengar jawaban tersebut, saya menangis sejadi-jadinya. Ketika itu saya tidak punya uang untuk membayar pulsa yang telah dibeli. Hal pertama yang saya lakukan adalah memberikan HandPhone saya sebagai jaminannya. Untungnya, saya bisa meminjam uang sebessar 150 ribu tersebut ke kantor tempat saya bekerja, sebuah Lembaga Amil Zakat di kota Bandung. Setelah menceritakan semuanya, Kang Arif pun (bagian keuangan) memberikan saya uang untuk membayar pulsa tersebut. Tak hanya itu, saya pun diantar pulang ke rumah oleh salah satu karyawannnya. Alhamdulillahirabbil ‘alamiin...:)
Hmm.. Masya Allah, saya dihipnotis kurang lebih selama enam jam. Dari pukul 09.00 sampai kurang lebih menjelang ashar, pukul 15.30-an.
Itulah pengalaman saya yang pernah terhipnotis. Padahal sepekan sebelumnya saya mendengar teman saya yang terkena hipnotis juga. “Kirain saya tak akan terkena hipnotis, eh kena juga.” Gumam saya.
Hikmah yang dapat saya ambil adalah kita tak boleh berangan-angan terlalu tinggi tanpa dibarengi usaha yang maksimal untuk meraih cita-cita kita. Gunakan logika otak kita untuk memperolehnya yaitu dengan cara-cara yang baik dan benar menurut ajaran agama Islam.
Jangan hanya ingin untung dari hal-hal yang enteng.
Bandung, 08 November 2010.
READ MORE - Terhipnotis

Rabu, 20 Oktober 2010

status status ustadz cinta

Bismillaah..
Saudara2ku, tekadkan bhwa hr ini hrs LEBIH BAIK drpd kemarin.. Selalu LURUSKAN NIAT dan SEMPURNAKAN IKHTIAR, iringi dgn DZIKIR dan ISTIGHFAR serta akhiri dgn TAWAKAL.. Smg ALLAH memberi KEJUTAN2 KEBERKAHAN, di hari ini dan hr esok.. Allahumma Amien..

ya ALLAH, Wahai yg mmudahkn sgla yg sukar, wahai yg mnyambung sgla yg patah, wahai yg mnemani smua yg trsendiri, wahai pngaman sgla yg takut, wahai pnguat sgla yg lemah: mudahkn sgla yg susah..
Wahai yg tiada mmerlukan pnjelasn & pnafsiran: hajat kami kpdMu amatlh bnyak, Engkau Maha Tahu dan Melihatnya.

Selesainy sbuah amanah prtanda akn dtg amanah yg baru.. Ciri org hidup adlh punya masalah dan amanah. Jika merasa gak pnya masalah dan amanah skecil apapun, dpertanyakn keHIDUPannya...
Tinggal bgmna kita mngatasi masalah dan amanah itu.. Prbanyak dan tingkatkn ilmu, iman dan taqwa.. Insya Allah.. (19102010)

kehidupan seseorang dtentukn olh bbrp hal,antara lain: dgn siapa ia brteman dan buku apa saja yg ia baca... ~Ustadz Cinta..

adilah sprti AIR yg SUCI lg menyucikan. Brgerak utk mnghidupkn, mngalir utk kbaikn.. Memancar dgn kkuatn, dkelola mnjdi energi bagi khidupn.. Brjuang terus dan belajar maknai kehidupan.. Menjadi lbh baik, mmberi yg trbaik, and do the best for we are life..

Bila engkau penat menempuh jalan panjang, menanjak dan berliku.. dengan
perlahan ataupun berlari, berhenti dan duduklah diam.. pandanglah ke
atas.. 'Dia' sedang melukis pelangi untukmu :)

persaudaraan yang akan kekal adlh yg dlandasi dgn iman.. 'saling mnasihati dlm kbaikn dan kesabaran.' tak akn merugi, bhkan dtambah rezeki, tak kn kecewa, bhkan dtambah usia...
*Nikmatnya Ukhuwah Islam...

Cairkan makanan kalian dengan zikir kepada Allah dan shalat dan
janganlah kalian langsung tidur setelah makan, karena dapat membuat
hati kalian menjadi keras” (HR Abu Nu’aim dari Aisyah r.a)

Aku tahu rizqiku tdk akan diambil org lain, krn itulah qolbuku sll tenang. Aku tahu amal prbuatanku tdk akan dpt dtunaikan org lain, krn itulah aku sibuk mengerjakannya. ku tau jodohku tak akn diambil orang oleh krena itu aku tenang

jd inget status2 awal bikin akun fb; ya Allah, trlalu bnyak limpahan rahmat+rezekiMu pd hamba.. Skrg prtnyaan skaligus prmohonnny: Ya Allah tunjukkn jln2 corong rezeki yg Engkau berkahi dan diridhoiMu.. Amien..

semoga Allah mengabulkan do'a-do'a kita... mewujudkan mimpi-mimpi kita.. meski terkadang, Allah memberinya lain dari yang kita harapkan, namun yakinlah saudaraku... itu yang terbaik. pemberian Allah itu adalah yang kita butuhkan, bukan sekedar apa yang kita inginkan...:D
*Kenyataan hari ini adalah mimpi-mimpi kita waktu... dahulu.
**Mimpi kita hari ini, kenyataan hari esok....:) ;)

semakin besar perhatian seseorang pada sesuatu selain ALLAH, semakin besar kekecewaan yang akan ditanggungnya.
*Maka, cintailah sewajarnya, karena suatu saat pasti mengalami rasa benci. bencilah sewajarnya, karena suatu saat pasti mengalami rasa cinta... (*Ustadz Cinta*)

do'a pagi ini: Ya Allah, hamba ini suka lupa dan lalai. Maka, berilah hamba ksadarn utk slalu mngingat-Mu dlm brbagai keadaan, berilh hamba ksadasn stiap wktu akn datangnya keMATIan. Amien (Umar bin al-Khathab)
READ MORE - status status ustadz cinta

Jumat, 08 Oktober 2010

Sudah Jatuh, Ketimpa Durian Runtuh

“Kring..kring…”, sore itu handphone saya berbunyi tanda ada sms masuk. Setelah saya lihat dan saya baca, ternyata ada sms dari Dyah (bukan nama samara, bukan juga korban kekerasan keluarga) -seorang teman di facebook yang usianya lebih muda dari saya, sehingga dia manggil saya dengan sebutan Kakak. Isinya kurang lebih seperti ini: “Kak, ntar jam17 Dyah ada rapat penting.. semoga gak pada ngaret temen-temennya.” Saya pun menjawabnya, “yo wis, silahkan... semoga teman2nya gak pada ngaret.. Amien”
Dyah Tri Kusuma Dewi, ia adalah seorang perantau dari Jepara yang sedang kuliah di STIKES Muhammadiyah, Yogyakarta. Saya mengenalnya di dunia jejaring sosial, facebook. Memang, jika ada teman facebook yang membuat saya ingin lebih kenal dan sharring dengannya, saya suka meminta nomor kontak atau YM!-nya. Terlebih pada teman-teman yang mempunyai keahlian khusus, seperti seorang penulis dan fotographer yang sesuai dengan minat saya. Selain itu, saya suka dengan orang-orang yang merantau. Salah satunya, Mbak Dyah ini.
Kembali ke laptop!! Nah, menjelang jam 17.15, dyah mengirim SMS lagi ke saya bahwa belum ada satupun undangan yang hadir. Padahal sebelumnya ia mengira bahwa ia akan terlambat datang. Saya membalas sms itu dengan kalimat, “sabar saja, mungkin jam mereka disetting Waktu Indonesia Bagian Ngaret,..hehe..”
Akhirnya Dyah pun jadi mengikuti rapat, meskipun dimulainya telat. Imbasnya, jam pulangnya pun menjadi terlambat. Yang harusnya jam 20.00 sudah beres, tapi selesainya jam 21.00 WIB. Ngaret satu jam dari rencana.
Setelah selesai rapat, Dyah pun bergegas ke parkiran. Ternyata, helm yang disimpan di motornya sudah raib. “Kak, helm Dyah raib, biasanya disini aman-aman saja.” Isi sms-nya sekitar jam 21.10. saya jawab, “Ya, lain kali mah digantung di motor sambil di kaitkan di box motor, supaya gak kecolongan lagi.” Dyah pun harus menanggung resikonya: membeli helm baru, padahal keuangan yang dimilikinya tidak menganggarkan untuk membeli hal-hal semacam ini.
Malam pun larut. Dyah mencoba untuk istirahat dan menghilangkan pikiran tentang musibah yang sudah menimpanya tadi.
Keesokan harinya, tepatnya sekitar jam 13.00. Dyah pun kembali mengirim sms yang membuat saya kaget, “Kak, Dyah hampir maut, meninggal. Dyah jatuh dari motor. Tabrakan di tikungan jalan.” Saya pun membalasnya, “Masya Allah, kenapa bisa gitu? Gimana kronologinya??”
Dyah pun menceritakan kronologis kejadiannya lewat sms. “Gini Kak, Dyah itu lagi perjalanan pulang. Habis beli helm yang baru. Sesampainya di sebuah tikungan, Dyah nda lihat arah dari depan, tiba-tiba ada motor juga. Saat itu, kami tidak sempat salingmelihat kea rah depan. Akhirnya Dyah pun jatuh dari motor karena ditabrak dari arah depan.” Ujarnya.
“Kacamata Dyah pun pecah. Yang tersisa Cuma bingkainya, kacanya entah kemana. Rugi modal 100%. Pelipis Dyah harus dijahit, karena terkena pecahan kacamata yang pecah itu.” Lanjut Dyah. “Ya, mungkin ini musibah yang khusus dari Allah swt. untuk Dyah, Kak. Helm yang baru saja dibeli udah lecet lagi. Padahal Dyah udah hati-hati Kak..” tambahnya.
Tak sampai disana, Dyah harus menjalani pengobatan di PKU Muhammadiyah Yojyakarta, karena pelipis yang terkena pecahan kaca itu harus mendapat satu jahitan. Sesuai dengan kesepakatan, Dyah pun membagi mengatasi kerugian yang ada. Dyah bersedia untuk membeli obat-obatannya, karena ia mempunyai askes. Sedangkan bapak-bapak yang menabraknya membiayai perawatan/ jahitan pelipis mbak Dyah ini. Entah siapa yang salah, kahir-akhirnya Dyah pun berurusan dengan polisi karena kasusnya ini. SIM dan STNK motornya harus ditahan. Polisi, yang menurut Dyah ternyata tetangganya di sekitar asramanya ini berpesan supaya lebih hati-hati. “Kecelakaan yang terjadi itu disebabkan karena sebuah pelanggaran.” Ucap Polisi.
Dari cerita di atas, saya menangkap banyak hikmah pada kejadian ini. Saya teringat ungkapan Allah dalam Al-Qur’an bahwa, “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi?” (Qs. Al-‘Ankabut [29]: 2)
Seperti seorang siswa SD yang akan naik kelas. Maka, ia pun pasti akan menghadapi Ujian Naik Kelas, untuk mengetahui apakah ia berhak naik ke kelas yang lebih tinggi atau mengulang lagi di kelas yang sama tingkatannya. Kalau ia bisa menjawab semua ujian itu dengan benar dan baik, sebuah keniscayaan bahwa ia dipastikan naik kelas. Kalau sebaliknya, berarti ia harus menjalani (baca: mengulang) lagi pelajaran-pelajaran yang dipelajari di kelas yang sama.
Semoga peristiwa yang menimpa Mbak Dyah juga sama. Kejadian tersebut sengaja Allah takdirkan agar Mbak Dyah naik kelas dalam hal keimanan dan ketaannya kepada Allah Swt. Amien..:D
Dyah pun mengambil banyak hikmah dari berubi-tubi peristiwa-peristiwa yang menimpanya. Dyah bisa memanfaatkan kartu askes yang dimilkinya, yang sudah hampir tujuh tahun tidak dipakanya. Supanya tidak mubazir katanya..
Dyah juga berpesan untuk teman-teman dan dirinya sendiri untuk lebih hati-hati dalam menyimpan barang yang penting, dalam hal ini hlem. Jangan sembarangan menyimpan helm, kalaupun mau disimpan di motor, harus dikaitkan ke boxnya. Harus bisa memakai helm yang benar, jangan asal pasnag di kepala karena kalau tidak pas, akan berbahaya. Saling tolong-menolong, dan jangan melalaikan shalat atau ibadah-ibadah kita kepada Allah Swt. Karena mungkin, ini caraNya dalam mengingatkan supaya lebih taat kepada perintah-perintahNya… inilah kejadian “sudah jatuh, tertimpa durian runtuh.”
Jadi, jangan gampang untuk su’udzan dulu, berburuk sangka kepada Allah atas apa yang ditakdirkannya dan terjadi menimpa kita yang menurut kita tidak meng-enakkan. Dalam Al-Quran, Allah berfirman: “…… Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Qs. Al-Baqarah [2]; 216)
Justru dengan ujian-ujian yang Allah berikan, Allah sedang memberikan kita kesempatan untuk melaksanakan Ujian Kenaikan Kelas Iman dan tqwa kita. Insya Allah…
Wallahu a’lam…..
READ MORE - Sudah Jatuh, Ketimpa Durian Runtuh